Fenomena Simbolisme dan Substansialime : Sebuah Otokritik

Posted: Tuesday, November 9, 2010 in Untukmu Islamku
Tags: , , , , ,

Pada dasarnya Islam tidak menganjurkan umatnya tertidur seperti tertidurnya Ashabul Kahfi. Tertidur dalam waktu yang lama tanpa adanya perubahan. Ini karena Islam adalah agama dinamis yang menuntut adanya pembaruan-pembaruan. Pembaruan dalam arti meluruskan sesuatu salah. Untuk itu Allah mengutus mujadid-mujadid pada tiap kurun waktu untuk memperbaiki kehidupan beragama.

Saat ini, marak kita lihat diskusi-diskusi, kajian atau seminar berkaitan tentang keislaman. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kebangkitan Islam dalam sisi pemikiran. Kemudian dahulu kita lihat masjid dipenuhi orang-orang tua, namun sekarang para pemuda aktif meramaikan masjid. Jika dahulu muslimah merasa risih dengan jilbabnya karena lain dari yang lain, maka sekarang jilbab menjadi mode tersendiri dalam pergaulan di masyarakat. Semua ini merupakan fenomena kebangkitan Islam dalam hal perbuatan.

Namun, dibalik fenomena kebangkitan tersebut, sebenarnya muncul kencenderungan baru yang berpeluang menjadi ancaman bagi Islam itu sendiri. Kecenderungan simbolisme dan substansialisme.

Sebagai seorang muslim seharusnya memahami sejauh mana diperlukan penonjolan simbol muslim dari simbol lainnya. Berkaitan dengan identitas, hendaknya jangan ragu menampakkan bahwa dia adalah muslim dengan penuh kebanggaan. Identitas tidak sama dengan simbolisme. Identitas muncul karena dilandasi oleh pemahaman sehingga menumbuhkan satu kesadaran untuk menunjukkan apa yang dipahaminya. Sedangkan simbolisme lebih menggambarkan suatu sikap pemujaan pada lambang yang sifatnya  permukaan, sementara isi yang berupa pemahaman tidak dimiliki.

Sepanjang dakwah Rasulullah tidak ada upaya untuk menyembunyikan identitas kepada kaum jahiliyah. Penonjolan identitas merupakan jalan pemisah antara yang mengikuti Allah dan mana yang tidak mengikuti jalan Allah. Seorang muslim akan selalu memplokamirkan identitas dirinya sebagai pembeda dengan yang lain. “Qul innama ana minal muslimin”, katakanlah bahwa aku adalah seorang muslim.

Permasalahan sekarang adalah sebagian umat Islam masih menekankan pada berlakunya prinsip Islami yang berkaitan dengan masalah ritual simbolik. Ukuran dukungan terhadap Islam sering dihubungkan dengan banyaknya masjid yang dibangun atau banyaknya jamaah haji yang pergi ke tanah suci. Mereka puas bila masjid bertambah banyak padahal kenyataannya sering tak terpakai. Makna masjid hampir mendekati makna monumen yang mati dan tidak berfungsi sebagai penggerak manusia untuk mengabdi kepada Allah. Islam tak akan berkembang bila hanya masjidnya saja yang bertambah namun disaat yang bersamaan masyarakat Islam menunjukkan pergaulan yang non Islami. Islam tak akan berkembang bila jamaah haji semakin naik tiap tahunnya namun pada saat yang sama korupsi tetap membudaya.

Masyarakat teranyata lebih peka bila simbol-simbol ritualnya dilanggar atau dicemooh, namun kurang peka jika kaidah sosial Islami disepelekan. Kita tidak puas jika jamaah haji menyusut atau kurang puas jika orang yang berpuasa berkurang namun kita tidak peka bila masyarakat bergelimang dengan kehidupan non Islami. Inilah kecenderungan yang menggambarkan bahwa simbolisme melanda umat Islam.

Belum lagi dengan munculnya organisasi masa atau partai politik yang mengedepankan simbol-simbol Islami, namun memiliki misi yang tidak jelas bahkan tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi umat Islam, bahkan pengurus atau personil di dalamnya tidak menunjukkan akhlak Islami. Beberapa terlihat adanya stagnasi gaung kebangkitan Islam di kamups-kampus yang berlebel Islam. Sehingga sering kita jumpai maraknya kegiatan Islam justru pada kampus-kampus umum.

Jika kecenderungan ini dibiarkan muncul kekecewaan umat terhadap sesuatu yang berbau simbol. Maka kemudian muncul kecenderungan baru yang disebut substansialisme.

Substansialisme berarti lebih mementingkan esensi daripada simbol-simbol semata. Yang penting saya sholat, puasa, haji atau ibadah lainnya tanpa menunjukkan bahwa dirinya seorang muslim. Padahal satu yang terlupa bahwa simbol bisa menjadi identitas yang membedakan muslim dengan non muslim. Apa jadinya jika seorang muslimah yang mementingkan kebaikan akhlak pribadinya, ibadahnya namun lupa menutup auratnya karena beranggapan bahwa jilbab hanya merupakan simbol saja. Akibat yang muncul kemudian adalah hilangnya identitas seorang muslim. Betapa banyak muslim saat ini yang mengalami krisis identitas. Ia tidak mewarnai kehidupannya dengan nilai-nilai Islam namun terwarnai oleh nilai-nilai jahiliyah yang jauh dari Islam. Selanjutnya, akibat yang lebih parah lagi adalah hilangnya sifat peka terhadap sesuatu yang menyingung agamanya. Acuh terhadap budaya-budaya asing yang berpotensi merusak akhlak beragama.

Islam sebagai dien tak cukup dipahami dengan pengertian agama saja. Agama atau religion adalah sesuatu yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Artinya hanya menyangkut urusan batiniah atau rohani saja. Perlu dipahami Islam sebagai dien menyangkut semua aspek kehidupan manusia tak cukup hubungannya dengan Tuhan saja. Islam adalah sistem, Islam adalah ideologi, Islam juga agama. Islam tak hanya sebatas sholat zakat, puasa atau haji. Islam menyangkut hubungan kita terhadap makhluk, bagaimana mengatur negara, mengatur ekonomi dan semua aspek kehidupan agar tercapai kemaslahatan. Disamping itu Islam mengedepankan prinsip tawazun atau keseimbangan. Setiap aspek mempunyai porsi masing-masing namun tetap dalam koridor Islam. Oleh karena itu penting memahami bagaimana dan kapan simbolisme dan substansialime ditonjolkan agar kemudian terjadi keseimbangan keduanya tanpa ada yang harus berat sebelah. Semoga kita digolongkan menjadi manusia-manusia yang berislam secara kaffah.

Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s