Kejahatan Kebijakan, Sejahat-Jahatnya Kejahatan

23 11 2009

Mendengar editorial metro TV pagi itu, kembali mengingatkan bahwa negeri tercinta kita memang layak disebut dengan negeri sarang kejahatan. Mulai dari rakyat kecil sampai para pejabat tak luput dari aktivitas kejahatan, baik posisi mereka sebagai korban maupun penjahat. Bisa jadi kita pun sekarang menjadi korban, atau bahkan menjadi penjahat secara tak sadar. Bisa jadi karena kebijakan yang carut marut dan asal-asalan sadar tak sadar memaksa kita untuk ikut menjadi salah satu roda gerigi dari raksasa kejahatan yang semakin lama semakin menggila.

Kebijakan yang berpihak pada kepentingan tertentu dimana satu kelompok merasa dirugikan oleh kelompok lain menjadikan akar salah satu masalah. Kebijakan yang carut marut yang sifatnya integral (berpengaruh kepada orang banyak) jika kemudian turun ke tataran praktis, sudah barang tentu berakibat luas mendholimi orang banyak.

Dalam membuat kebijakan, pemerintah sering kali hanya berpikir parsial saja. Artinya hanya mempertimbangkan beberapa faktor tanpa mempertimbangkan banyak faktor yag saling berkaitan. Sebagaai contoh, kebijakan tentang penertiban PKL atau Perda DKI yang melarang memberikan uang kepada pengemis/anak jalanan dirasa kurang tepat jika pemerintah hanya memikirkan ketertiban kota saja tanpa mempertimbangan bagaimana selanjutnya mereka akan mencari nafkah. Permasalahan ini hanya akan selesai pada satu ruang saja dan berpindah ke ruang yang lain, dengan kata lain bukan menyelesaikan masalah namun hanya memindahkan masalah.

Selain itu, banyaknya aturan yang mudah berubah tergantung kepentingan dan jumlah ”bayaran” yang diterima si pembuat aturan dari sang empunya kepentingan. Salah satu contoh adalah kasus hilangnya ayat rokok pada Undang-Undang Kesehatan saat penyerahan ke Setneg. Ada yang berkilah bahwa ini kesalahan teknis pengetikan, namun mengapa ayat yang hilang adalah ayat yang strategis. Motif ekonomi diduga menjadi alasan yang kuat hilangnya ayat ini. Para pengusaha rokok tentunya akan terbatasi jika ayat ini diloloskan sehingga akan mengurangi omzet penjualan mereka. Hal ini menjadi indikasi mudahnya para pembuat kebijakan untuk mengubah-ubah aturan sesuai dengan kehendaknya.

Berapa jumlah manusia yang dirugikan jika kebijakan yang salah sampai turun. Hak-hak rakyat akan terbatasi, orang-orang lapar semakin banyak. Lapar bukan karena kehendak sendiri, tapi lapar karena hak hidup mereka dibatasi oleh aturan yang tidak memihak. Berapa banyak generasi muda di negeri ini yang kemudian menjadi pecandu zat aditif karena salah satu aturan dikorupsi. Akhirnya berapa banyak rakyat negeri ini terbunuh oleh ’kejahatan’ kebijakan yang dibuat oleh ’wakilnya’ sendiri. Kejahatan yang melebihi perampokan dan pembunuhan, inilah kejahatan sejahat-jahatnya kejahatan.

F.N. Al Fatih





Rumus Penting Solusi Kejahiliyahan Modern

19 11 2009

Sebab diutusnya Rasulullah SAW ke dunia ini adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang dilumuri oleh kebodohan. Jazirah arab pada waktu itu dipenuhi oleh manusia-manusia yang miskin akhlak, cacat moral dan yang lebih parah lagi adalah praktek penghambaan manusia terhadap berhala – berhala. Digambarkan bahwa praktek kejahatan dan kemaksiatan mulai dari perampokan, perzinahan, judi, khamr sampai pada pembunuhan pada waktu itu adalah sesuatu yang lazim. Inilah kondisi yang dinamakan kejahiliyahan/kebodohan.

Sebagaimana dipahami semuanya bahwa jahiliyah pada waktu itu bukan berarti kebodohan dalam hal ilmu pengetahuan. Namun kebodohan yang membuat manusia lalai akan hakikatnya sebagai manusia. Kebodohan ini yang menggiring manusia menuju lembah kehinaan. Kehinaan membuat mereka menjadi lemah dan akhirnya perpecahan adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Rasulullah Muhammad SAW dengan membawa risalah Islam mampu mengubah kondisi masyarakat jahiliyah di Mekah pada waktu itu menjadi sebuah prototype masyarakat madani. Bahkan menjadi cikal bakal peradaban yang kemudian menguasai dua per tiga dunia ini selama berabad-abad.

Sejarah pasti berulang hanya saja fenomenanya saja yang berbeda. Seperti saat ini, identik dengan kondisi jahiliyah jaman Rasulullah dulu. Banyak pembunuhan, perzinaan semakin terang, penghambaan manusia terhadap hiburan sama seperti penghambaan manusia terhadap berhala-berhala ketika zaman Rasulullah. Jaman jahiliyah modern adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi sekarang. Lalu kemudian apakah zaman kebangkitan setelah kejahiliyahan akan muncul seperti waktu yang lalu. Itu pasti karena sejarah akan terulang. Tergantung sampai mana upaya kita sebagai umat yang akan bangkit berusaha untuk melawan kejahiliyahan. Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita bagaimana melepaskan umat dari kejahiliyahan menuju umat yang Islami. Secara umum, Allah SWT telah memfirmankan hal ini ke dalam Al Qur’an surat Al Jumuah ayat 2.

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. QS. Al-Jumu’ah (62) : 2

Upaya pertama Rasulullah dalam merubah umat adalah membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia. Ini dilakukan agar meraka faham akan hakekat penciptaan manusia itu sebagai apa di dunia ini. Kemudian setelah itu adalah mensucikan hati manusia. Ini berkaitan dengan amalan hati yaitu keikhlasan menerima bahwa manusia itu adalah hamba yang wajib menyembah dan taat kepada Khaliknya selain itu harus mengakui ketauhidan Allah. Faham saja tidak cukup tanpa adanya keikhlasan. Orientalis Barat faham akan ilmu-ilmu Al Quran namun mengapa mereka tidak melakukanya. Itu dikarenakan hati mereka terkotori sehingga tidak ikhlas menerima kebenaran. Terakhir adalah mengajarkan kepada manusia Kitab dan hikmah (sunah). Mengajarkan bukan hanya lisan saja tapi fungsi keteladanan merupakan hal yang penting karena kecenderungan manusia adalah mengikuti perbuatan bukan perkataan.

Itulah rumus yang dilakukan Rasulullah pada waktu itu sehingga beliau mampu merubah umat yang sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Tinggal bagaimana kita yang peduli terhadap kondisi sekarang mengaplikasikannya dalam masyarakat. Rasulullah telah tiada dan tidak ada Rasul lagi sepeninggal beliau. Amanah itu sekarang berada di tangan kita. Kita yang rindu umat ini bangkit.

Katakanlah jika ada 1000 orang yang bertaqwa dan amanah pastikan bahwa satu diantaranya adalah aku, jika ada 100 yang bertaqwa dan amanah pastikan bahwa satu diantaranya adalah aku, jika ada 10 orang yang bertaqwa dan amanah pastikan bahwa satu diantaranya adalah aku, dan jika hanya ada 1 yang bertaqwa dan amanah pastikan bahwa itu adalah aku. Wallahua’lam.

 

 

F.N. Al Fatih





Aliran Penyembah Kucing

18 11 2009

Jika Anda ingin membuat aliran baru dalam aliran kepercayaan, lakukanlah di Negara ini. Tulis saja sebuah buku sebagai kitab suci kemudian ajak beberapa orang yang sedang menderita stress karena PHK, depresi atau sedang mengalami goncangan jiwa yang keras. Tunjuk salah satu orang atau Anda sebagai nabinya. Buat ritual-ritual ibadah yang agak aneh, misalnya dengan menyembah kucing atau yang lain yang berbeda. Setelah itu buat markas sebagai kiblat aliran Anda. Terakhir, ajak orang lebih banyak lagi.

Jangan khawatir pemerintah, polisi atau petugas MUI akan membredel kegiatan aliran yang Anda buat. Pasti akan ada yang membela, santai saja dengan alasan melindungi HAM dan kebebasan beragama, organisasi pembela aliran/sekte Anda pasti akan membantu sampai ke pengadilan. Tidak sampai itu saja, Anda akan mendapat bonus nampang di TV yah itung-itung promosi barangkali ada yang tertarik atau bersimpati. Maka semakin besarlah aliran baru yang Anda buat. Lumayan menghemat biaya ”dakwah”.

Semakin Anda sering muncul di TV, semakin banyak orang yang bersimpatik dengan Anda. Jangan lupa buat statement-statement yang jelas dan meyakinkan. Ini akan memperkuat posisi anda di tengah banyak orang yang bersimpatik dengan aliran Anda. Maka kemudian orang-orang ini akan membuat wadah atas koordinasi organisasi pembela aliran kepercayaan yang sebelumnya telah membela Anda. Demo pro-kontra akan bermunculan sebagai reaksi dari pelarangan aliran Anda. Jangan sedih dulu dengan demo yang kontra, justru ini akan menembah popularitas aliran Anda. Ingat teori komunikasi, dimana reaksi kontra merupakan promosi gratis dari produk Anda. Cukup Anda nonton di depan TV sambil minum kopi, aliran Anda semakin populer. Inilah kekuatan media, apalagi media di Indonesia yang sebagian besar profit oriented dan mengikuti selera pasar, aliran Anda pasti laku.

Mudah bukan, tapi ingat jika Anda masih takut dengan Pengadilan Allah SWT dimana disana tak ada lagi pembela apalagi tak ada lagi media-media tenTerdensius itu, jangan sekali-kali lakukan. Tapi jika Anda gila popularitas, tak percaya ada kehidupan setelah mati maka terserah Anda.<

terinspirasi dari majalah Hidayatullah edisi Juli 2008





Fokus Reformasi Birokrasi : Perubahan Pola Pikir Serta Peningkatan Kesejahteraan Aparat

30 10 2009

 

Reformasi birokrasi, sebuah terminologi kata yang menjelaskan satu upaya untuk mewujudkan pelaksanaan kepemerintahan yang baik yang dilaksanakan secara integral. Secara pragmatis muncul setelah masyarakat jenuh akan lemahnya kinerja birokrasi serta panjangnya prosedur yang harus dilewati jika berurusan dengan pemerintah. Fungsi organisasi pemerintah yang seharusnya berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat diselewengkan sehingga berorientasi pada kesejahteraan aparat secara pribadi. Oleh karena itu praktek KKN sangat erat kaitannya dengan lembaga pemerintahan. Penyakit akut yang mulanya hanya muncul pada individu menjalar ke tataran sistem. Sistem korup. Jika sudah sampai ke tahap ini, ”orang baik” pun secara tak sadar bisa menjadi penjahat bagi masyarakat. Dari latar belakang permasalahan di atas maka perlu adanya sebuah perbaikan secara menyeluruh dalam hal pelaksanaan kepemerintahan.

Agenda penciptaan reformasi birokrasi memiliki 5 (lima) sasaran yaitu : (1) berkurangnya secara nyata praktek korupsi kolusi dan nepotisme di birokrasi, yang dimulai dari jajaran pejabat yang paling atas; (2) terciptanya sistem kelembagaan dan ketata-laksanaan pemerintah yang efisien, efektif dan profesional transparan dan akuntabel; (3) terhapusnya peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara; (4) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik; (5) terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah.

Birokrasi adalah sebuah organisasi besar yang menjalankan sebuah pemerintahan. Oleh karena itu mari kita perhatikan apa saja unsur-unsur organisasi itu. Pertama unsur dari organisasi adalah adanya tujuan. Sebagai organisasi yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat, apakah tujuan birokrasi pemerintah sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ini yang perlu dipelajari kembali. Perlu adanya kajian yang sangat kompereensif untuk memahami kebutuhan masyarakat sebagai pertimbangan utama untuk menetapkan tujuan. Kedua adalah sistem. Berbicara tentang sistem, tentunya tak lepas dari beberapa terminologi kata yaitu jaringan, prosedur, kegiatan dan tujuan. Sehingga jika didefinisikan secara kasar sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran/tujuan tertentu. Dalam mencapai tujuan tentunya butuh sarana yang efektif dan efisien. Disamping akan menghemat waktu, biaya juga dapat ditekan. Sistem birokrasi sebagai sarana untuk mencapai tujuan negara hendaknya bersifat efektif, efisien, profesional, transparan dan akuntabel. Ketiga adalah sumberdaya manusia. Saya kira unsur ini sudah jelas. SDM sebagai subyek pelaksana sistem pemerintahan harus mempunyai kualitas pemikiran yang tinggi diimbangi moral yang baik.

Kondisi sekarang, ini hanya salah satu sampel di satu departemen tertentu. Tidak bisa digeneralkan. Namun bisa saja semua seperti itu. Tidak menutup kemungkinan karena sistem, budaya kerja dan mind set aparat pemerintah dimana-mana hampir sama. Pelaksanaan reformasi birokrasi secara sederhana difahami sebagai perbaikan kesejahteraan aparat artinya peningkatan pendapatan bagi aparat pemerintah. Peningkatan penghasilan ini merujuk kepada beban kerja yang ditimpakan oleh setiap individu dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu perlu dirigidkan kembali standar operasional prosedur kerja. Dengan demikian akan tahu berapa beban kerja setiap pegawai. Boleh jadi pegawai yang sama pangkatnya namun gajinya berbeda karena beban kerjanya berbeda. Pemahaman seperti ini yang muncul pada sebagian besar pegawai saat ini. Pemahaman yang parsial mengenai reformasi birokrasi yang sekarang menjadi permasalahan. Aparat pemerintah hanya berorientasi pada perbaikan penghasilan tanpa diimbangi kinerja. Ini yang perlu diperbaiki. Perbaikan pemahaman serta pola pikir.

Sasaran reformasi birokrasi kalau kita teliti lebih dalam hanya menyentuh unsur tujuan dan sistem saja namun sedikit menyentuh sisi SDM nya. Sementara tiga unsur itu berhubungan secara komplementer atau saling membutuhkan satu sama lain. Artinya tidak bisa organisasi tumbuh dengan baik jika salah satu unsurnya cacat. Dengan demikian perlu adanya perbaikan bahkan pembaruan kualitas serta moral SDM aparatur dalam menyelenggarakan kepemerintahan. Munculnya KKN terutama disebabkan oleh mental dan pola pikir aparat yang ingin memperoleh uang yang banyak tanpa kerja keras. Pola pikir seperti ini tidak serta merta muncul begitu saja. Permasalahan kesejahteraan menjadi faktor utama. Ini yang perlu diperhatikan. Peningkatan kesejahteraan bagi aparat dibarengi dengan perubahan pola pikir harus menjadi fokus utama dalam pelaksanaan reformasi birokrasi.

 

F.N. Al Fatih





Memerdekakan Ramadan

14 09 2009

Sudah menjadi ciri orang Indonesia yaitu menghubungkan momen-momen tertentu dengan kejadian yang dialami. Kebiasaan ini umumnya ada pada orang Jawa yang sangat menjaga tradisi Kejawaannya. Sebagai contoh, mereka tidak mau menikahkan anaknya pada bulan Suro (Muharram di kalender Islam.red) karena di bulan Suro Bethara Kala (sesuatu yang mewakili mala petaka.red) keluar dan bila ada orang yang mempunyai hajat pada waktu itu maka kedepan akan ada sesuatu yang kurang menyenangkan, musibah atau sesuatu hal yang tidak baik. Bagi orang Islam, sudah barang tentu hal demikian adalah perbuatan syirik dan syirik adalah dosa besar dan tidak akan diampuni oleh Allah na’udzubillahi mindzalik. Tapi saya tidak akan membahas syirik di tulisan ini, sekedar mukadimah saja karena selanjutnya tulisan ini terkait dengan “hubung-menghubungkan” sebagai ciri yang sudah mentradisi di Indonesia.

Teori sosiologi menyebutkan bahwa sesuatu hal yang dilakukan berulang ulang akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus kemudian disosialisasikan ke orang banyak sehingga mereka melakukan kebiasaan itu bersama-sama maka itu akan menjadi sebuah tradisi atau kebudayaan. Kebiasaan hubung menghubungkan yang awalnya mungkin kebiasaan satu orang saja kini sudah menjadi kelaziman di masyarakat Indonesia. Ternyata saya pun tak luput dari tradisi itu, hanya ingin mencoba saja bagaimana sih asyiknya kebiasaan ”hubung-menghubungkan” ala Indonesia. Namun saya mencoba agar hal ini tetap dalam koridor syar’i dan jauh dari nuansa kesyirikan.

Ramadan 1430 H ini jatuh bertepatan dengan bulan Agustus 2009 di kalender masehi. Makna apa yang bisa kita ambil dari dua momen yang bersamaan ini. Apa yang bisa kita ”hubung-hubungkan” terkait dengan hal diatas. Benar, kemerdekaan adalah himpunan bersama yang beririsan dari dua himpunan yang berbeda yaitu Ramadan 1430 H dan Agustus 2009. Berbicara kemerdekaan tak lepas dengan perjuangan, sampai kita memahami ada sesuatu yang harus dibayar untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Yah, pengorbanan adalah harga yang pantas bagi sebuah kemerdekaan. Bagaimana para pejuang-pejuang mengorbankan harta bendanya bahkan sampai nyawa sebagai salah satu harga yang pantas untuk menebus kemerdekaan. Intinya, kemerdekaan adalah sesuatu hal yang tidak cuma-cuma. Ada syarat yang harus dipenuhi yaitu pengorbanan. Pengorbanan untuk membebaskan diri dari penjajahan.

Hal yang sama berlaku untuk ibadah Ramadan. ”Hai orang-orang yang beriman berpusalah kalian sebagaimana telah diperintahkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Taqwa adalah pencapaian tertinggi dalam ibadah Ramadan. Atau dengan kata lain taqwa adalah bentuk kemerdekaan dari ibadah Ramadan. Allah SWT tahu bahwa ummatnya masih dalam keadaan terjajah. Terjajah atas nafsu, keinginan duniawi, terjajah oleh setan dan sesuatu yang memalingkan manusia terhadap hakikat penciptaannya. Oleh karena itu Ramadan diciptakan sebagai lahan perjuangan untuk membebaskan diri dari bentuk-bentuk penjajahan spiritual.

Menurut etmologi bahasa arab ramadan itu bermakna ”membakar” atau ”mengasah”. Yaitu membakar dari sesuatu yang sifatnya merusak pahala ibadah ramadan dan mengasah aktifitas kita agar setiap yang dilakukan dapat menambah nilai dari ibadah Ramadan. Membakar dan mengasah inilah bentuk perjuangan sebagai konsekuensi dari pencapaian sebuah taqwa. Akumulasi pahala ibadah yang dilakukan selama bulan ramadan yang menentukan derajat taqwa kita. Tidak sekedar menahan dari yang membatalkan puasa atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, itu terlalu sederhana. Itikaf, tilawah, sholat sunnah, sedekah, dan bentuk ibadah lain di bulan Ramadan, itu yang bisa membantu kita mencapai taqwa. Sudah barang tentu untuk melakukan bentuk ibadah-ibadah tersebut membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan kita terhadap waktu, pengorbanan tenaga, dan pengorbanan harta adalah suatu keniscayaan.

Berhasil tidaknya kita berjuang memerdekakan Ramadan bisa kita lihat di bulan- bulan setelah Ramadan. Karena apa, karena kualitas ibadah selama satu bulan ramadan menentukan kualitas spiritual di sebelas bulan kedepan. Adalah menjadi sesuatu yang tidak berarti jika selama Ramadan ibadah kita naik namun setelah lepas dari Ramadan turun kembali bahkan lebih buruk. Bisa diibaratkan Ramadan adalah sebuah pitstop yang harus dilalui setiap pembalap untuk mempersiapkan race selanjutnya agar bisa tampil dengan performa lebih baik. Jika ternyata race selanjutya ternyata ada kerusakan mesin atau pecah ban, maka yang perlu ditanyakan pertama kali adalah apa yang dilakukan si pembalap selama masuk ke dalam pitstop. Allah mengetahui kebutuhan dalam perjalanan spiritual hambaNya, oleh karena itu Dia menciptakan pitstop-pitstop sebagai salah satu fasilitas mencharge ruhiyah para hamba Nya.

Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita mampu menjadi pejuang-pejuang yang berjuang untuk memerdekakan ramadan. Tidak berhenti sampai tahap ini, selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan kemerdekaan yang ternyata lebih sulit daripada mencapai kemerdekaan.

Wallahua’lam.


F.N. Afatih





SUDAH TERUJIKAH IMAN KITA?

23 08 2009

Alhamdulillah, syukur kehadirat Robb penguasa alam semesta Allah SWT, atas kenikmatan iman dan Islam yang diberikan sehingga kita masih menikmati keindahan Islam sampai saat ini.

Sholawat serta salam senantiasa tercurah atas uswah khasanah kita, murobbi umat sedunia Rosulullah Muhammad SAW yang telah mengemban risalah Islam hingga dapat merubah dunia dari paradigma kejahiliahan menuju paradigma Islami.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”,sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS:Al Ankabut 2-3)

Seberapa besar konsekuensi dari pernyataan iman kita, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau hanya sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendatangkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah :

“Dan diantara kamu ada orang yang berkata:”kami beriman kepada Allah”,maka apabila ia disakiti(karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu,”Bukankan Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia.” (QS; Al Ankabut 10)

Cobalah direnungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan iman kita? Cobaan yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Betapa menderitanya Bilal bin Rabah Ra. ketika dihimpit dengan batu ditengah padang pasir panas tanpa pelindung apapun sebagai konsekuensi dari sebuah iman. Bagaimana Rasulullah dan orang-orang terdahulu rela berkorban dan berjuang demi sebuah keimanan akan akidah keesaan Allah.

“Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang disisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pul yang diletakkan diatas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tak memalingkannya dari agamanya….(HR.Bukhari)

Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan iman dan akidah kita? Rasanya iman kita ini belum seberapa atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikitpun belum ada?

Ujian yang diberikan Allah kepada manusia bermacam-macam bentuknya. Ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita :

Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih puteranya yang sangat dicintai. Menjadi pelajaran bagi kita karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya.

Kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf As yang diuji dengan sorang wanita cantik anak seorang raja yang mengajak untuk berzina. Namun Nabi Yusuf As membuktikan kualitas imannya dengan berhasil meloloskan diri dari godaannya. Allah melarang kita untuk meninggalkan kemaksiatan. Maksiat berarti keluar dari ketaatan dan berselisih atau bertentangan dengan aturan Allah. Maka setiap perbuatan yang melanggar atau menyelisi syariat Allah, baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perbuatan yang dilarang adalah dalam kategori dosa dan maksiat. Konsekuensi logis pernyataan keimanan kita diuji untuk selalu meninggalkan perbuatan maksiat. Menjadi pelajaran bagi kita disaat pintu-pintu kemaksiatan merajalela, mampukah kita untuk tidak terjerumus di dalamnya.

Ketiga : Ujian yang berbentuk musibah. Nabi Ayyub As yang diuji oleh Allah dengan penyakit sehingga tak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis, kerabatnya meninggalkannya tinggal ia dan istrinya yang setia menemani dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun. Begitulah ujian Allah kepada hambaNya, sedikitpun Nabi Ayyub As tidak terbesit pada hatinya untuk meninggalkan imannya. Betapa banyak saudara-saudara kita yang tega melepaskan iman demi sekardus sarimi dan sembako karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami Nabi Ayyub As.

Keempat : Ujian lewat tangan tangan orang kafir dan orang yang tidak menyenagi Islam. Apa yang dialami Rasulullah Saw dan sahabatnya, betapa keimanan mereka diuji ketika suatu saat orang orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Saw beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Saw untuk dibunuh. Rasulullah Saw dan orang orang yang istiqomah membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. Bagaimana kisah Bilal bin Rabah, kisah Yasir dan Istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Makkah. Namun penderitaan itu tak membuat kendor semangat untuk senantiasa menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.

Kedengkian orang kafir yang telah membantai saudara saudara kita di Palestina, Irak, Afghanistan sampai ke Poso dan Ambon, menjadi pelajaran untuk senantiasa memperkuat iman kita dengan mengimplementasikannya dengan selalu istiqomah mengemban risalah Islamiyah. Karena kedengkian orang kafir yang tidak menyukai Islam akan selalu ada selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan antara haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan Allah.

Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, adalah menjadi suatu keniscayaan bagi kita untuk mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, dan harus yakin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu kecintaan Allah kepada kita.

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian, Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah.”(HR At Tirmidzi)

Allahu’alam bishowab.

Maraji: Al Qur’anul Karim, Sirah Nabawi, Majalah Hidayatullah, dan berbagai sumber.





PILAR-PILAR KEMENANGAN

23 08 2009

Hakikat kemenangan menurut Islam adalah memenangkan agama Allah di muka bumi ini, bagaimana syariat Islam dapat terlaksana sepenuhnya di muka bumi ini. Tidak ada perjuangan yang lebih mulia selain berjuang dalam memenangkan agama Allah. Kemenangan Islam adalah satu hal yang pasti yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman. Kemenangan Islam bukan barang yang gratis tanpa perjuangan. Bila kita ingat perjuangan Nabi Saw dan para mujahidin, berapa banyak pengorbanan yang telah mereka lakukan sampai nyawa menjadi taruhan. Berapa banyak mujahid yang syahid hanya karena memperjuangkan Islam semata. Ibarat kita sekarang berdiri diatas tengkorak dan darah para mujahid berjuang di jalan Islam. Kemenangan dakwah tentu menjadi barang mahal yang harus kita beli sekalipun nyawa sebagai taruhan. Tentunya ada syarat yang harus diperhatikan agar pilar pilar dakwah dapat mencapai tujuan dan sasaran yang tepat. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai menyanggga pilar-pilar kemenangan dalam berda’wah.

Al Iman

Kemenangan dakwah tidak terlepas dari keyakinan kita bahwa dakwah adalah milik Allah. Dan tidaklah kemenangan itu selain datangnya dari Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (Ali Imran 126). Kemenangan da’wah sangat erat hubungannya dengan sejauh mana kita memperjuangkan da’wah ini karena Allah. “Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhan kedudukanmu.” (Muhammad:7) Dalam tinjauan sejarah Islam kemenangan kemenangan da’wah akan diberikan kepada orang orang yang konsisten, komitmen dengan syariat Allah. Tanpa dilandasi iman atau keyakinan serta tidak adanya kepastian dari dalam diri kita, tentu saja kita akan mengalami kesulitan dalam meraih kemenangan dan pertolongan Allah. Sebagai aktifis dakwah, hendaknya landasan perjuangan yang diusungnya adalah berdasarkan keyakinan, yang disebut sebagai perjuangan ideologis, bukan perjuangan yang sifatnya materialistis bukan pula untuk mengejar kepentingan kepentingan sesaat atau keuntungan keuntungan yang sifatnya duniawi.

Al Ikhlas

Ikhlas adalah sesuatu hal yang abstrak karena iklas merupakan pekerjaan hati yang hanya diketahui oleh diri kita sendiri dan Allah Swt. Allah Swt mengingatkan kepada kita bahwa amal yang diterima adalah amal yang sesuai dengan syariat dan ikhlas karena Allah semata. Terkadang kita mengalami kesalahan orientasi ketika beramal. Mungkin kita semua faham dalam tataran teori dan prinsip tentang keikhlasan namun dalam tataran aplikasi lebih-lebih jika amalan itu langsung bersinggungan dengan publik atau masyarakat umum, disinilah Allah menguji kita apakah kita ikhlas melakukan amalan itu semata-mata karena Allah atau tidak. Ada kalanya banyak pujian atau bahkan sebaliknya cercaan yang muncul, apakah kita tetap konsisten dengan kinerja kita. Keikhlasan terkadang muncul pada permulaan perjuangan namun ketika tanda-tanda kemenangan dan Allah membuka peluang kemenangan , justru niat yang muncul pudar kembali.

Semangat

Tiada kemenangan tanpa perjuangan. Demikian dengan dakwah, Islam tidak mungkin dirasakan sampai sekarang jika para pejuang dakwah dahulu hanya diam saja dan Islam tidak akan dirasakan generasi yang akan datang jika para da’i sekarang tidak bergerak berjuang mempertahankan Islam. Semangat ibarat ruh dalam proses pergerakan, diantara orang orang yang berhak untuk mendapat kemenangan, keberhasilan dan dukungan dari Allah adalah mereka yang bersungguh-sungguh, bersemangat, tidak pernah lemah, putus asa dan menyerah pada keadaan. Bagaimana rasulullah Saw dan kaum muslimin saat itu tetap semangat ketika kaum kafir Quraisy memboikot mereka hingga dikisahkan kaum muslimin saat itu hanya makan daun karena suplai makanan disabotase oleh kafir. Walaupun tubuh mereka lemah karena lapar namun ruh mereka tak akan lemah karena semangat dan orientasi mereka hanya Allah, tak ada kata menyerah sampai Allah memberikan pertolongan sesuai dengan janji Nya yaitu kemenangan umat Islam. Sesungguhnya kemenangan itu sangat dekat tinggal bagaimana kita berusaha untuk meraihnya.

Amal dan Pengorbanan.

Semangat tidak bisa dipisahkan dengan semangat bekerja dan pengorbanan. Kita selalu ingat perjuangan Syaikh Ahmad Yassin, seorang pemimpin gerakan intifadah, pemimpin jihad Palestina. Seorang kakek yang lumpuh bahkan buta. Akan tetapi semangat bekerja berkorban, semangat beramalnya terus berkobar tidak lumpuh. Bahkan seorang kakek tua yang buta dan lumpuh itu adalah orang yang paling ditakuti Israel waktu itu. Kenapa? Sebab beliau tidak pernah berhenti bekerja, berbuat deramal, berjihad untuk memberikan potensi yang dimiliki untuk kepentingan Islam untuk kepentingan umat manusia dan untuk membela agama Allah. Beramal dan terus bekerja karena Allah akan menilai, rasul akan menilai, masyarakat akan menilai hasil kerja kita. Allah akan memberikan serta memperlihatkan kepada kita hasil kerja dan amal kita kelak di akherat sejauh mana kita bekerja dalam memperjuangkan agama Allah.

Berangkatlah kamu ke medan juang. Bekerjalah, berdakwahlah berjihadlah dalam keadaan ringan atau berat susah atau mudah di semua keadaan. Dan berjihadlah kamu dengan hartamu dengan jiwamu di jalan Allah.

Wallahua’lam bishowab.

Dirangkum dari buku Seri Madah Tarbiyah oleh Ust. Abdul Muiz, MA dan Ust. Al Yusni. Dengan gubahan seperlunya.





Organisasi Ekstra Kampus Menuju Pendewasaan Politik

23 08 2009

Mahasiswa sebagai bagian dari negara ini telah mendapat legitimasi dari sebagian besar masyarakat sebagai agen revolusi. Kita masih ingat bagaimana negara ini terbentuk, para akademisi pada waktu itu yang terwadahi dalam Idische Partij mempunyai peran yang cukup signifikan terhadap proses kelahiran NKRI. Masih tercatat pula di ingatan bagaimana orde baru tumbang sepuluh tahun silam. Mahasiswa pada waktu itu mempunya satu common enemy sehingga secara masif mereka bergerak bersama dengan satu tujuan yaitu menumbangkan orde baru sehingga akhirnya lahir orde reformasi. Masa berlalu, tahun berganti seakan negara ini terlahir kembali. Layaknya seorang balita yang baru lahir negara ini pun saat ini sedang “lucu-lucunya” maksudnya sedang lucu-lucunya dipermainkan oleh menjamurnya ideologi-ideologi yang mulai bebas merasuki setiap kepala orang khususnya mahasiswa. Setiap orang berusaha mencari pembenaran atas ideologi yang dianutnya itu dan berusaha agar bisa diaplikasikan dalam sistem kenegaraan. Berawal dari segelintir mahasiswa idealis, muncul bermacam organisasi ekstra kampus sebagai sarana terwujudnya negara sesuai dengan cita-cita idealismenya. Aktivis-aktivis kampus mencoba menjadi problem solver dari berbagai masalah kenegaraan dengan cara masing-masing. Bergerak sendiri sendiri tanpa koordinasi. Pergerakan dengan arah tak jelas seakan tidak ada lagi musuh bersama saat ini, bahkan teman bisa dianggap musuh dan musuh dianggap teman sesuai kepentingan masing masing. Sehingga sekarang tumbuh subur di kepala kepala aktivis mahasiswa adagium politik “Tiada musuh yang abadi yang ada adalah kepentingan yang abadi”.

Kepentingan politik praktis dengan memanfaatkan pergerakan mahasiswa (organisasi kemahasiswaan ekstra kampus-red) sudah menjadi trend menjelang detik detik Pemilu dan Pilpres. Memang sah-sah saja dan tidak ada yang melarang namun ketika itu sudah menjadi persaingan yang tidak sehat antar kepentingan, sehingga salah satu pihak menyudutkan pihak lain apatah lagi jika fitnah digunakan demi memuluskan tujuannya, maka hal ini akan menjadi masalah yang cukup serius. Bangsa yang sedang mencoba membangun kecerdasan politik seakan berjalan di tempat bahkan mundur menuju apa yang disebut pembodohan politik. Organisasi ekstra kampus yang berafiliasi dengan kepentingan politik praktis “tertentu” mencoba menjegal lawan politiknya dengan mengebiri cikal bakal munculnya organisasi ekstra kampus lain yang menurut anggapannya bisa “membahayakan” eksistensinya (mengancam perolehan suaranya-red). Bahkan dalam suatu kasus secara frontal kekuatan kepentingan politik dengan memanfaatkan organisasi ekstra kampus ini memojokkan lawan politiknya dengan pernyataan-pernyataan yang tidak berdasar dan sangat tidak obyektif. Wacana-wacana dimunculkan melalui diskusi atau seminar mahasiswa. Mereka mencoba mengubah mainset pemikiran peserta seminar/diskusi dengan harapan agar mereka tidak simpatik terhadap lawan politiknya. Bertajuk seminar perbandingan ideologi, kekuatan politik praktis dengan muka organisasi ekstra kampus ini menarik perhatian para mahasiswa dengan mendatangkan narasumber-narasumber yang sudah “diatur” agar pedas mengkritisi tanpa mendatangkan narasumber dari pihak lawan politiknya, sungguh subyektif sekali dan sangat tidak ilmiah. Wacana pun terbentuk seolah olah mengatakan “Jangan kalian simpatik dengan si ini, si anu, partai ini, partai itu karena mereka bla…bla…bla…” alasan alasan muncul mulai dari radikal lah, eksklusif lah, dananya dari Amerika lah dan berbagai lah lah yang lain.

Organisasi ekstra kampus sebagai wadah pengembangan ideologi sekaligus kawah candradimuka menuju pencerdasan politik bangsa seharusnya bisa bersikap bijak dan dewasa dengan memberi ruang bagi ideologi lain (tentunya yang tidak bertentangan dengan dasar negara kita) agar masuk ke kampusnya. Sangat penting adanya semangat “berlomba-lomba dalam kebaikan” pada setiap aktivis mahasiswa. Dengan demikian akan muncul suasana kampus yang dinamis dan ideal tanpa adanya otoritas superior maupun tirani minoritas. Sungguh sangat ironis ketika kita menghadapi mahasiswa yang apatis terhadap lingkungannya dikarenakan superioritas salah satu ideologi tertentu. Akhirnya, kita menunggu produk-produk organisasi ekstra kampus baik berupa kader maupun wacana yang bijak dan dewasa menuju Indonesia yang demokratis. Hidup Mahasiswa !!!

Sebenarnya agak telat ana memposting catatan ini. Ini karena ada sedikit kesalahan teknis, ana lupa naruh file ini dimana, Alhamdulillah baru sekarang ketemu. Latar belakang ana menulis artikel ini karena ada sedikit kegelisahan ketika mahasiswa cenderung turun menghasilkan produk-produk yang signifikan untuk bangsa ini. Tidak bermaksud memojokkan aktivis mahasiswa, tentunya ini adalah tugas kita samua yang peduli. Semoga bermanfaat.

F.N. Alfatih





Dan Kutemukan Ayat-Ayat Cinta Itu

8 08 2009

Kini pertanda – pertanda pun mulai jelas

Masih dengan diammu ketika kau bertanya

alasan untuk hidup bersama

“Atas nama Ilahi aku ingin menggapai surga bersamamu “

Tunggulah….

Di hari itu akan kurengkuh hatimu….

Subang Pantura,

di bawah temaram rembulan 17 Sya’ban 1430 H





Bagiku, diammu adalah sebuah jawaban

28 07 2009

Cinta tidak dapat dipaksakan tapi cinta dapat dipelajari. Ungkapan yang ku percaya dan sepenuhnya ku sadari.

Sungguh misterius takdir Allah. Misterius namun mengandung berjuta keindahan. Terutama ketika cinta mulai bersarang di hati tiap manusia. Diam namun penuh makna. Ada bahasa tanpa kata yang saling berinteraksi di tengah diam ”Kaulah cintaku ku ingin bersamamu. Bersabarlah jika Allah menakdirkan hingga ungkapan cintamu halal bagiku dan ungkapan cintaku halal bagimu.”

Dia pun menjawab dengan diamnya “Ku berharap engkau adalah pilihan yang diciptakan Allah untukku.”

Seraya kuberkata “Bagiku diammu adalah sebuah jawaban.”

Indah sungguh indah….

Satu jam mempelajari cinta.

Subang Utara Selepas Isya, Syaban 1430 H