Alhamdulillah, syukur kehadirat Robb penguasa alam semesta Allah SWT, atas kenikmatan iman dan Islam yang diberikan sehingga kita masih menikmati keindahan Islam sampai saat ini.
Sholawat serta salam senantiasa tercurah atas uswah khasanah kita, murobbi umat sedunia Rosulullah Muhammad SAW yang telah mengemban risalah Islam hingga dapat merubah dunia dari paradigma kejahiliahan menuju paradigma Islami.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”,sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS:Al Ankabut 2-3)
Seberapa besar konsekuensi dari pernyataan iman kita, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau hanya sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendatangkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah :
“Dan diantara kamu ada orang yang berkata:”kami beriman kepada Allah”,maka apabila ia disakiti(karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu,”Bukankan Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia.” (QS; Al Ankabut 10)
Cobalah direnungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan iman kita? Cobaan yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Betapa menderitanya Bilal bin Rabah Ra. ketika dihimpit dengan batu ditengah padang pasir panas tanpa pelindung apapun sebagai konsekuensi dari sebuah iman. Bagaimana Rasulullah dan orang-orang terdahulu rela berkorban dan berjuang demi sebuah keimanan akan akidah keesaan Allah.
“Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang disisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pul yang diletakkan diatas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tak memalingkannya dari agamanya….(HR.Bukhari)
Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan iman dan akidah kita? Rasanya iman kita ini belum seberapa atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikitpun belum ada?
Ujian yang diberikan Allah kepada manusia bermacam-macam bentuknya. Ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita :
Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih puteranya yang sangat dicintai. Menjadi pelajaran bagi kita karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya.
Kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf As yang diuji dengan sorang wanita cantik anak seorang raja yang mengajak untuk berzina. Namun Nabi Yusuf As membuktikan kualitas imannya dengan berhasil meloloskan diri dari godaannya. Allah melarang kita untuk meninggalkan kemaksiatan. Maksiat berarti keluar dari ketaatan dan berselisih atau bertentangan dengan aturan Allah. Maka setiap perbuatan yang melanggar atau menyelisi syariat Allah, baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perbuatan yang dilarang adalah dalam kategori dosa dan maksiat. Konsekuensi logis pernyataan keimanan kita diuji untuk selalu meninggalkan perbuatan maksiat. Menjadi pelajaran bagi kita disaat pintu-pintu kemaksiatan merajalela, mampukah kita untuk tidak terjerumus di dalamnya.
Ketiga : Ujian yang berbentuk musibah. Nabi Ayyub As yang diuji oleh Allah dengan penyakit sehingga tak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis, kerabatnya meninggalkannya tinggal ia dan istrinya yang setia menemani dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun. Begitulah ujian Allah kepada hambaNya, sedikitpun Nabi Ayyub As tidak terbesit pada hatinya untuk meninggalkan imannya. Betapa banyak saudara-saudara kita yang tega melepaskan iman demi sekardus sarimi dan sembako karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami Nabi Ayyub As.
Keempat : Ujian lewat tangan tangan orang kafir dan orang yang tidak menyenagi Islam. Apa yang dialami Rasulullah Saw dan sahabatnya, betapa keimanan mereka diuji ketika suatu saat orang orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Saw beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Saw untuk dibunuh. Rasulullah Saw dan orang orang yang istiqomah membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. Bagaimana kisah Bilal bin Rabah, kisah Yasir dan Istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Makkah. Namun penderitaan itu tak membuat kendor semangat untuk senantiasa menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.
Kedengkian orang kafir yang telah membantai saudara saudara kita di Palestina, Irak, Afghanistan sampai ke Poso dan Ambon, menjadi pelajaran untuk senantiasa memperkuat iman kita dengan mengimplementasikannya dengan selalu istiqomah mengemban risalah Islamiyah. Karena kedengkian orang kafir yang tidak menyukai Islam akan selalu ada selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan antara haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan Allah.
Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, adalah menjadi suatu keniscayaan bagi kita untuk mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, dan harus yakin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu kecintaan Allah kepada kita.
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian, Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah.”(HR At Tirmidzi)
Allahu’alam bishowab.
Maraji: Al Qur’anul Karim, Sirah Nabawi, Majalah Hidayatullah, dan berbagai sumber.
Recent Comments